Pelajaran dari Tomat

sumber

“Kau takkan pernah tahu apa yang kau miliki

Hingga nanti kau kehilangan” -SO7 : Percayakan Padaku-

Heuuu, gambarnya tomat dan cabe tapi kok malah nyanyi lagunya Sheila on 7 to si Nyonyah?! Tenang sodara-sodara, tetep ada hubungannya kok πŸ˜€ . Sejenak luangkan waktu untuk menyimak cerita saya ya πŸ˜€

Saya lahir dan dibesarkan di desa yang kebanyakan mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Bapak saya dulu pernah bekerja sebagai PNS, tapi ketika saya kelas dua SD, beliau sudah pensiun. Akhirnya bapak dan ibu saya menjadi petani sejati *halah*. Hidup dilingkungan desa dan sebagai anak petani, membuat saya terbiasa bekerja dahulu untuk mndapatkan apa yang saya inginkan. Contohnya begini, saya dibiasakan mendapat jatah uang saku seminggu sekali mulai SD, kalau mau duit lagi ya harus kerja dulu bantu-bantu di sawah. Apalagi sawah yang dimiliki orang tua saya alhamdulillah lumayan luas πŸ˜€ . Akhirnya saya malah terbiasa menjual hasil sawah seperti tomat, cabe, mentimun, mangga, dan lain-lain kepada teman-teman atau guru-guru saya. Dan kebiasaan itu berlanjut sampai saya SMP. Malah dulu pas masih SD pernah sampai jual ceplukan karena di lahan sawah yang habis dipanen biasanya banyak pohon ceplukannya πŸ˜† .

ceplukan alias ciplukan

sumber

Bapak saya tipe orang yang suka bertanam sayuran macam tomat, cabai, mentimun, jagung, kedelai dan sebagainya, selain padi dan tebu sbagai tanaman pokok. Jadi sebagian lahan ditanami padi atau tebu, sebagian lagi ditanami sayuran tadi. Kegiatan saya di sore hari dan hari minggu ya pasti ke sawah, membantu bapak ibu mengolah sawah. Saya hafal tahap demi tahap untuk menanam cabe dan tomat meski tidak tau berapa lama persisnya setiap tahap berlangsung πŸ˜† . Paling suka yaitu saat memberi pupuk cair pada tanaman, karena setelah itu lahan sawah akan diairi sampai selutut yang digunakan untuk menyirami tanaman sehabis dipupuk dan bermain air tentunya πŸ˜† . Selain itu, saya juga suka saat panen, apalagi panen tomat atau mentimun. Bayangkan ketika ketika bekerja, kepanasan, lapar dan haus *oke, saya lebay πŸ˜› *, kemudian kita makan mentimun atau tomat ranum yang baru saja dipetik. Aaaah segarnya *ngiler kan?hahaha* πŸ˜€ .

Saat panen seperti itu membuat saya kurang menghargai tomat, cabe, mentimun dan teman-temannya. Biasanya tinggal ambil trus di kremus-kremus dimakan langsung, dibuat masker, jus, rujak dan macam-macam tanpa pikir panjang. Tidak pernah berpikir harganya berapa karena tinggal ambil saja πŸ˜€ . Apalagi kadang harga tomat dan mentimun kadang kebanting sampai rendah banget. Percaya atau tidak, ketika saya SMP pernah harga panenan tomat per kilo dari tempat saya hanya RP 200,- saja! Padahal modal yang dikeluarkan tidak sedikit πŸ˜₯ . Akhirnya setiap ada saudara, tetangga, atau teman saya yang berkunjung ya sudah dikasih begitu saja sampai sekresek gede, kadang malah disuruh ambil sendiri. Mau gimana lagi wong kalau dijual harganya juga cuman segitu :(. Kalau mentimun biasanya antara Rp 1.000,- sampai Rp 2.000,- Β per kilo dari tempat saya. Harga dua ribu itu sudah termasuk bagus loh ya. Kalau cabe sih cenderung stabil, serendah-rendahnya Rp 10.000,- lhah ya, tapi kan cabe ringan 😐 . Sekarung cabe paling 10kg itupun kalau bagus semua.

Sekarang saya merantau *halah* di kota Semarang. Otomatis kalau mau apa-apa beli dewe dong ya. Saya biasanya beli makanan yang langsung jadi saja karena males belanja πŸ˜† . Kalo toh pas dapat jatah masak di wisma, ya berarti teman saya yang belanja dan saya tinggal masak. Β Nah, masalahnya sekarang saya nge-kos, kalau mau masak ya belanjan dewe laaah. Dan saya kaget ketika tau harga tomat yang 4 biji gede-gede itu Rp 4.500,- sementara dulu saja saya tinggal comot πŸ˜₯ . Belum lagi cabe yang sejumputnya Rp 2.000,-, bawang merah bawang putih dan lain-lainnya. Aaarrgh, inilah akibat dari sejak dulu saya tidak pernah belanja dan tinggal memasak saja (ibu saya biasanya yang belanja). Saya kaget ketika belanja tahu, tomat, dan sedikit bumbu-bumbu dapur, eh udah abis Rp 20.000,- aja πŸ˜₯ . Ampun dah hidup disini 😦 .

Kadang saya berpikiran untuk hidup di desa saja, menanam sayur dan menjualnya. Meski yah resikonya gede kalau harganya lagi anjlok. Belum lagi kalau terkena lalat buah ataupun hama penyakit dan serangga lainnya. Tapi bukankah setiap pilihan hidup selalu ada resikonya?

Ya Allah, rahmatilah para petani dimanapun berada. Karena berkat jasa mereka kami bisa makan aneka rupa masakan. Aamiin.

Advertisements

12 thoughts on “Pelajaran dari Tomat

    1. iya mbak 😦 kalau pulang sering dibilangin ibu, “udah, bawa aja bawang merah, tomat ama cabe dari rumah, nyampek sana dijual juga gak pa2 kok.” hahaha πŸ˜€

  1. Eh iya mantan pegawai nya kakekku skrg juga punya kebun sendiri gitu, terus kl panen tomat harga bs jadi 150/kg, dia bilang “mending saya biarin aja ga dipetik, capek-capek tp cuma dapet segitu..”

    Berarti kalau panen ga semuanya diuntungkan ya, (β€’Ν‘Μ―.β€’Ν‘Μ―)

    Dan yes, biasanya baru sadar sesuatu berharga ketika kita udah ga dapet semuanya for freeee~ hihihii

    1. iya mak 😦 tapi alhamdulillah sekarang sudah regenerasi ke kakak saya hehehe πŸ™‚ semoga petani-petani Indonesia tidak makin terpuruk mak

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s