Dilema Brambang

Kemarin tomat, sekarang brambang alias si bawang merah šŸ˜€ . Ada apakah gerangan?!
Sejak lahan sawah dipercayakan kepada kakakku -sebut saja si A-, bapak tidak ambil pusing dengan apa yang hendak ditanam oleh si A. Meski masih ikut terjun mengolah sawah, tapi bapak membiarkan kakakku menanami lahan sesuai keinginannya. Nah, si A ditawari salah seorang paman untuk mencoba menanam brambang. Cukup 90 hari sudah bisa dipanen dan tidak serewel tanaman lainnya kata paman.
Berbekal bismillah dan buku bertanam brambang, mulailah si A bercocoktanam brambang. Ditemani dua orang pekerja, si A mengurus brambang mulai dari memilih benih, membuat gundukan untuk ditanami, memupuk dan seterusnya, sampai tibalah masa panen šŸ˜€ .
Alhamdulillah hasil panen si A bagus untuk ukuran pemula yang memulai dari nol. Ternyata eh ternyata, perlakuan njlimet untuk si brambang dimulai pasca panen šŸ˜ ! Mulai dari memilah brambang, kemudian diikat kecil-kecil. Terus dikeringkan tapi belum boleh terkena sinar matahari langsung,nha lo! Jadi brambang yang sudah diikat tadi ditumpuk dengan posisi brambang diatas daun dibawah ā“ . Yagitudehpokoknya hahaha šŸ˜† . Setelah diangin-anginkan selama kurang lebih 2 sampai 3 hari, baru deh bisa dipilah-pilah sesuai ukuran dan juga memisahkan yang busuk. Kemudian dijemur lagi kalau menghendaki kering benar atau langsung dijual ke pengepul.

Berambang D: itu baru separuh loh :lol:
Berambang :D: itu baru separuh loh šŸ˜†

Ā 

Semua proses diatas dilakukan oleh keluarga saya sendiri dibantu oleh beberapa tetangga yang juga masih terhitung saudara. Nah, disinilah dilema dimulai *lebay*. Perlakuan setelah panen yang lumayan ribet ini bisa dikatakan dikerjakan secara sambilan saja, jadi dilakukannya gak ngoyo-ngoyo banget. Brambang yang sudah kering diikat biar gampang bawanya, satu ikat kurang lebih hampir satu kilogram kalau bramabangnya gede-gede semua. Nah, tiba-tiba ada bulek yang ngomong, “Brambang sing iki nggo aku ya, Yu? Anggap wae upah kerjaku (Brambang yang ini buat saya saja ya, Mbak? Anggap saja sebagai upah kerja saya)”, sambil menunjukkan dua ikat besar brambang (dan setelah ditimbang) beratnya 3 kg. Dan ngomongnya di depan orang-orang yang sedang kerja nguntili (memilih dan mengikat) brambang. Mau tak mau ibuku mengiyakan saja permintaan bulekku.

Keesokan harinya, dua orang bulek juga melakukan hal yang sama. Brambang yang di-untili mereka kemudian diklaim sebagai upah kerja mereka. Seminggu kemudian, pengepul datang untuk membeli brambang yang sudah dipilah tapi masih terhitung “campur” (ada yang besar dan ada yang sedang), tetapi ibu menyisakan beberapa kilo berambang yang ukuran besar untuk pekerja yang lain, “Daripada iri,” begitu kata ibu. Dan benar saja, setelah pengepul pergi, 2 orang pekerja datang dan meminta brambang saja sebagai upah mereka.

Oiya, pada saat itu harga brambang berada di kisaran Rp 30.000,- di pengecer. Dilema sih, kan seharusnya brambang yang gede-gede dan bagus-bagus ntu kalau dijual harganya lebih mahal daripada yang campuran. Tapi, masak iya kalau pekerja meminta haknya terus gak dikasih? Tetangga sendiri pulak, udah milah-milah sendiri juga. Akhirnya yang tersisa dari panen brambang kemarin yaitu brambang yang ukuran kecil dan sedang untuk benih pembibitan berikutnya. Uangnya??? Masuk kantong pak bos A dong šŸ˜€ .

Advertisements

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s