“Wonderful Wife” Ala NyonyaHM

Wonderful wife alias istri yang hebat. Siapa sih yang tak ingin menjadi seorang Wonderful Wife? *bapak-bapak jangan ngacung, plisss*. Menjadi istri yang hebat dan ibu yang tangguh tentulah menjadi dambaan bagi setiap wanita. Begitu pula dengan saya *uhuk*. Berbicara tentang Wonderful Wife mengingatkan saya pada seorang yang menurut saya sudah termasuk Wonderful Wife, dia adalah kakak ipar saya yang pertama.

Yups, inspirator saya adalah yang duduk depan paling kiri
Yups, inspirator saya adalah yang duduk depan paling kiri

Saya terlahir dengan jarak yang cukup jauh dengan kakak laki-laki saya yang pertama, jadi saya terkadang masuk hitungan “anak” dalam hal jatah jajan, baju, dan sebagainya. Banyak teman dan saudara saya yang iri melihat bagaimana telatennya kakak ipar saya mengayomi keluarga besar saya. Bagaimana beliau bisa meredam amarah ibu saya (yang kami, anak-anaknya, saja memilih diam dan tunduk pada kemauan ibu), menasihati bulek-paklek tentang sabar dalam hidup dan tidak terkesan menggurui, menegur anak-anaknya sendiri dengan tegas manakala anaknya menyusahkan orang lain maupun berperilaku yang tidak seharusnya, bahkan ada sepupu saya yang lebih senang curhat sama kakak ipar saya ini daripada dengan sepupu ataupun saudara yang lain *eh, saya juga ding 😆 *.
Sekian tahun merasakan hidup bersamanya, setidaknya saya melihat beberapa poin yang menjadi pegangan kakak ipar saya ini yang menurut saya layak termasuk dalam kategori Wonderful Wife, :
1. Segala perilaku bersandar pada ajaran agama
Mungkin terdengar klise, tapi kenyataannya memang seperti itu. Kakak saya ipar saya ini menitikberatkan apakah perilaku, ucapan maupun pemikirannya sudah selaras dengan ajaran Islam yang dianut? Tentunya hal tersebut melalui proses yang lama. Saya sih tahunya hanya hasil akhir dari proses tersebut, yaitu betapa santun perilaku dan ucapan kakak ipar saya dalam kehidupan sehari-hari, ketika bercanda tetapi tidak membuat sakit hati orang lain, selalu menghormati dan sabar dalam menghadapi orang yang lebih tua, dan meskipun punya masalah tetapi tidak gampang mengeluh.
2. Bisa menjaga komunikasi dengan suami
Saya sering mengamati, dalam menghadapi masalah apapun, sebelum dibicarakan dengan anggota keluarga yang lain, kakak ipar saya ini pasti konsultasi dulu dengan suaminya. Bagaimana nanti supaya enak ngomongnya di hadapan anggota keluarga yang lain dan otomatis secara tidak langsung juga meminta dukungan kepada suaminya tentang apa yang hendak disampaikan nantinya. Begitu pula saat menghadapi anak-anak mereka *yang sering bikin saya ngelus dada*, tetap tegas kala ada yang berbuat salah dan memberi hadiah ketika ada yang melakukan kebajikan ataupun mendapat prestasi di sekolahnya. Jadi saya belum menjumpai pergesekan tentang bagaimana menyikapi perilaku anak-anak mereka, yang seringkali terjadi pada keluarga lain.
3. Menjaga silaturrahmi dengan keluarga
Nah, untuk poin ini, saya merasa malu sekali pada kakak ipar saya. Saya berkunjung ke rumah paklek bulek yang agak jauh hanya ketika lebaran ataupun ada hajatan, sementara kakak ipar saya begitu mendengar ada kabar bulek-paklek sakit atau kenapa-kenapa maka akan langsung ke sana. Begitu pula dengan jadwal mengunjungi orang tua kami, setidaknya dua minggu sekali kakak saya sekeluarga akan mengunjungi orang tua sedangkan saya hanya sebulan sekali 😥 . Saya juga terkadang kudet (kurang update) tentang informasi yang beredar di lingkungan orang tua maupun keluarga besar kami, sementara kakak ipar saya ini update sekali.
Saya sangat ingin bisa mencontoh kakak ipar saya, tetapi apalah daya saya orangnya gampang meledak ngambeknya, nangisnya 😆 . Tentu saja tetap ada upaya untuk menjadi seorang Wonderful Wife kelak meski tertatih dan jatuh bangun untuk mewujudkannya *sungkem sama Mbak Ican*.

 

Setelah mengamati *halah* blog Mak Ida, ada sedikit saran dan masukan yang menurut saya perlu untuk diperhatikan :
1. Untuk link dengan label Pages (isinya kalau tidak salah ada Home, twitter, fb, kesehatan keluarga, dan profil), lebih baik jangan diletakkan seperti itu. Kalau menurut saya, Pages itu lebih mengarah ke bagian-bagian dalam blog Mbak Ida, jadi yang bener hanya untuk Profil saja (ataupun bagian lain di blog ini). Kalau untuk link ke akun social media atau pun blog mak Ida yang lain, lebih baik diberi label “Connect with Me” atau yang sejenis yang kemudian Mak Ida bisa tambahkan logo fb, twitter ataupun yang lain yang mengarah ke akun Mak Ida yang lain (contohnya pakai tutorial ini : http://www.thechococompany.com/cara-memasang-social-media-logo/ ). Untuk profil, buat link ke halaman profil di bagian header dibawah tulisan judul blog Mak Ida (dibagian yang saya beri kotak), jadi nanti ada Home yang mengarah ke alamat blog Mak Ida secara umum alias ke http://ida-nurlaila.blogspot.jp/ dan profil yang mengarah ke halaman profil Mak Ida atau http://ida-nurlaila.blogspot.jp/p/nama-ida-nur-laila-s.html

mak ida
2. Tema blog mak Ida kuning putih kan ya? *kalau salah,maaf ya mak*, untuk tulisan yang butuh perhatian lebih, jangan pakai warna merah atau kuning gonjreng mak, bikin sakit mata hehehehe, 🙂 seperti tulisan di gambar bawah ini (yang saya beri kotak), lebih baik warnanya merah/kuning yang lebih gelap atau cukup di-bold saja (seperti yang saya lingkari).

mak ida2
Maaf ya mak kalau panjang kali lebar sekali urun masukan dari saya *sungkem* 😀

Artikel ini disertakan dalam GA “Wonderful Wife” by Ida Nur Laila

Advertisements

4 thoughts on ““Wonderful Wife” Ala NyonyaHM

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s