Ganti Gigi (2)

Rabu sore saya di-sms oleh pihak Kariadi, menyatakan kalau gigi sudah jadi dan besok jumat bisa proses untuk cabut gigi, dianjurkan juga untuk sarapan terlebih dahulu. Tiba-tiba saya merasa ndredeg, padahal baru dapat sms 😦 Malamnya, kembali saya telpon keluarga dan partner untuk menguatkan diri saya lagi *iya, saya emang takut banget dengan ‘cabut gigi’*. Jumat pagi, saya ke Kariadi sendirian, karena teman-teman mau kondangan ke tempat Luluk di Demak πŸ˜₯ Waktu berangkat dari kos, saya masih nyantai, tapi begitu sampai di poli gigi,perasaan ndredeg itu kembali menyergap. Saya pun mengalihkan perhatian dengan membaca buku dan ngenet via hp. Sekitar pukul setengah 12, dokternya sudah datang dan saya pun di panggil untuk masuk ke ruangan.

Seperti biasa, saya cek tensi terlebih dahulu kemudian ditanya apakah sudah sarapan. Entah karena nervous atau ketakutan, tensi darah saya hanya 90/70, membuat perawat yang disitu merasa ragu untuk melanjutkan proses cabut gigi. Saya pun sekali lagi ditanya oleh dokter, apakah yakin mau cabut hari ini? Saya menjawab iya, kemudian kata dokternya tidak apa-apa kalau memang saya sudah mantap. Dan disinilah mimpi buruk dimulai πŸ˜₯

Begitu duduk di kursi dan dokter beserta perawat menyiapkan alat-alat, saya sudah ketakutan dan memejamkan mata. Saya turuti instruksi dokter tapi dengan mata terpejam rapat-rapat. Mula-mula gusi saya disuntik bius lokal sebanyak 4 kali, yang membuat saya refleks menjerit kecil. Kemudian, gigi saya di teliti lagi dan (sepertinya) proses pencabutan dimulai. Aaarrgghh, gigi saya ditarik (entah menggunakan apa, kan saya mejam mulu matanya), dan ternyata patah lagi 😦 Kemudian saya diminta untuk membuka mulut lebar-lebar dan diutak-atik lagi, rasanya kaya ditarik-tarik lagi itu gigi πŸ˜₯ Saya merasa seperti sedang tarik tambang dengan dokter gigi, karena sepertinya susah sekali gigi saya ini dicabutnya. Setelah beberapa saat, saya disuruh untuk berkumur. Saya membuka mata sebentar dan merasa kalau wajah saya pasti pucat sekali, kedua tangan saling menggenggam erat, dan wajah saya berkeringat sekali. Ketika dokter menginstruksikan untuk membuka mulut, saya pun menutup mata lagi. Dan saya mendengar ada suara kaya mesin diesel, entah untuk alat apa, mulai dinyalakan πŸ˜₯ Saya pun semakin tegang. Tiba-tiba saya merasa gigi yang bersebelahan dengan gigi yang yang sedang dicabut ini ikut ditarik, saya pun sontak menjerit lagi. Tanpa ampun, suntikan bius ditambah di dekat gigi tersebut sebanyak 2 kali. Wadehel ini mah πŸ˜₯

Setelah berkutat agak lama dengan gigi dan mulut saya, tiba-tiba dokter menggumamkan sesuatu dalam istilah medis. Kalau dari nada suaranya sih sepertinya bukan hal yang baik 😦 Perawat pun sepertinya juga menanggapi dengan nada khawatir. “Waduh, kenapa lagi ini?”, saya hanya bisa membatin sambil ngempet sakit. Setelah beberapa saat, sepertinya mereka menyerah, kemudian memutuskan untuk menyudahi proses pencabutan gigi saya.

Setelah berkumur berkali-kali (karena gusinya masih berdarah terus), saya kemudian diajari untuk memasang gigi palsu saya, sambil di-tes untuk berbicara secara normal. Selain itu diajari juga cara melepasnya dan perawatannya. Setelah saya bisa merasa nyaman dengan gigi baru tersebut, barulah saya diperbolehkan untuk berdiri dan mulailah diberi wejangan tentang Do&Don’t untuk perawatan gigi saya. Oh, iya, sepertinya akar gigi saya ditengarai terlalu mblesak ke dalam (ke arah rahang atas), jadi kalau proses tadi dilanjutkan maka bisa jadi malah akan merusak gusi atas saya. Saya pun disarankan untuk periksa lagi enam bulan kemudian, utnuk melihat apakah akar gigi tadi sudah turun. Kemudian saya diberi resep obat, dan disarankan kalau ada apa-apa silahkan datang lagi ke poli gigi.

Saya keluar ruangan dengan langkah agak sempoyongan dan badan terasa lemas sekali menuju ke bagian pembayaran tagihan. Selama menunggu panggilan, saya seperti orang patah hati *alah*, nglimpruk, lemes dan (mungkin) seperti mayat hidup gara-gara saking tegangnya waktu proses cabut gigi tadi. Setelah melunasi pembayaran, saya sekalian hendak menebus obat di Kariadi saja. Ketika saya melihat resepnya, saya terkejut. Kok obatnya cuman antibiotik ama Asam Mefenamat doang?!?! Karena saya sudah terbiasa minum Asam Mefenamat kalau sakit gigi, saya kira bakal dapat dapat obat apa gitu untuk mempercepat proses penutupan gusi atau apalah gitu πŸ˜† Ya sudahlah hahaha πŸ˜€

Mungkin karena efek biusnya masih ada, saya pun merasa baik-baik saja setelah proses cabut gigi tersebut. Tetapi sore hari, begitu saya sudah di kos, saya mulai merasakan nyut-nyut di gusi atas bawah dan badan saya agak demam 😦 Saya cerita ke partner dan akhirnya dia memutuskan untuk menjenguk saya keesokan harinya, asiiiiiik πŸ˜€ Sepanjang malam itu, saya hanya bisa makan roti sambil pringisan menahan sakit dan tubuh ini rasanya gak karuan. Untung saja saya tidak menangis waktu proses cabut gigi tadi, meski mungkin muka saya sudah tidak karuan warna dan ekspresinya πŸ˜€ So, welcome new teeth!! πŸ˜†

Advertisements

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s