Abangku

“Hei, jangan loncat kesitu!”, setengah memekik aku meneriaki mereka. Byuuuuur!! Ah, mereka tetap saja meloncat ke kolam dan membuat basah sekitarnya, termasuk abangku. “Yah, abang jadi basah lagi, deh!” ujarku sambil bersungut-sungut. Abangku hanya tersenyum melihat rupaku berubah, sementara aku hanya bisa menggerutu karena aku tidak bisa berpindah tempat agar abangku terkena sinar matahari dan lekas kering badannya.

Ah, abang yang malang. Dia tak pernah mengeluh meski harus meminta tolong orang ketika hendak berpindah tempat. Meski punya kaki, abangku tak bisa jalan kaki kemana saja sekehendak hatinya. Dia harus bersabar sampai ada orang yang berkenan memindahkannya ke tempat yang lebih layak untuknya. Aku bangga bisa menemukannya di tengah semrawutnya kota tua ini.
Berkali-kali aku mengelilingi kota ini, baru seminggu yang lalu aku menemukannya. Rupanya abangku adalah mantan bangku di sebuah warung yang akhirnya terdampar di sudut taman ini. Sedangkan aku? Aku adalah awan yang berusaha selalu ada untuknya meski itu tidak mungkin. Karena bentukku selalu berubah dan aku pergi kemana angin mengajakku bermain hari itu. Abangku adalah bangku terhebat, karena dia selalu bisa menemukanku diantara kawan-kawanku yang tak terhingga, dan selalu menyapaku dengan senyum manisnya.

“Hei, sudah kubilang jangan meloncat kalau masuk ke kolam! Kasihan abangku,” Aku hanya bisa berteriak kesal pada anjing yang sedang mengejar cakram tuannya yang terjatuh di kolam taman.
~ Tulisan ini diikutsertakan dalam Betasmind GiveAway  Episode 7 Juni 2014 ~
Advertisements

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s