Saat Mukena Tak Hanya Putih

Akhirnya dapat ilham untuk nge-blog lagi saat mendengar kultum waktu tarawih semalam. Beberapa hari absen dari masjid *youknowwhy*, sepertinya ada perubahan imam, muadzin serta bilal untuk tarawih malam itu. Kok tau kalo berubah, Nyah? Pertama, sang imam memuji si muadzin, “Wah, yang adzan tadi suaranya empuk sekali. Nah gini kan enak, kalau ada yang bersuara bagus dan mau digunakan untuk adzan”, berarti sebelumnya pak imam belum pernah dengar suara muadzin yang ini kan ya πŸ˜€ Berarti muadzin atau imamnya atau bahkan kedua adalah beda sama yang sebelumnya πŸ˜† Kedua, emmm apa ya namanya? Intinya kata-kata yang diucapin bilal pas sela-sela sholat ituh beda. Biasanya kan ditambah nyebutin nama-nama khulafaur rasyidin tiap dua kali shalat tarawih gitu, nah yang semalam tuh enggak . Kesimpulannya si bilal beda dari biasanya :mrgreen: Ketiga, bahasa yang digunakan imam waktu ngasih kultum beda, lebih ringan dan segar *kaya minuman itu tuh πŸ˜› *, meski isinya tetap makjleb πŸ˜€

Awalnya sih membahas tentang mengharap ridho Allah dalam setiap ibadah yang kita tekuni, terutama di bulan puasa ini. Eman-eman dong ya kalau kita beribadah, eh ujung-ujungnya hanya demi pengakuan dari orang lain ataupun mengharap selain ridho Allah *ehm,benerin jilbab*. Nah, saya lupa persisnya gimana, tiba-tiba mbahas tentang anak-anak jaman sekarang. Tahu kah kamu? Anak-anak sekarang sudah tidak terlalu takut dengan yang namanya pocongan, kuntilanak, dan sebagainya? Ya iyalah, gimana mau takut kalo tuh pocong ataupun kuntilanak pakaiannya berwarna-warni? πŸ˜† Kok bisa gitu? Lha lihat saja sekarang, mukena saja warnanya macam-macam, ada yang merah,hijau, bercorak Hello Kitty, dan lain-lain. Tidak tertutup kemungkinan kalau entah berapa tahun ke depan, warna kain kafan bisa berubah sebagaimana tren mukena sekarang ini πŸ™„ Kalau warna kain kafan sudah tidak putih lagi, pocongan pun jadi kaya permen kan? πŸ˜†

mukena sekarang tidak hanya putih warnanya

Kontan saja kultum tersebut mengundang tawa kecut dari barisan wanita, karena ya itu tadi, sekitar setengah dari jamaah wanita menggunakan mukena yang tidak berwarna putih (termasuk eike πŸ˜† ). Mukena saja bisa berwarna-warni, bisa jadi nanti jamaah laki-laki memakai kaos bergambar Ronaldo ataupun yang lainnya untuk sholat berjamaah di masjid, karena iri dengan kebebasan kaum wanita :mrgreen: Β Padahal pakaian/mukena yang dianjurkan untuk beribadah yaitu yang berwarna putih, jadi di akhir kultum, para jamaah dihimbau untuk mengenakan pakaian/mukena yang berwarna putih, salah satu warna yang disukai Allah πŸ˜€

Trus besok kamu ke masjid pakai mukena warna putih, Nyah? Ehm, enggak hihihihi πŸ˜› Mukena saya dua-duanya berwarna hijau, yang satu beli sendiri (mukena parasut untuk bepergian), satunya dikasih sama mbak Ican (ini!). Keduanya masih bagus, jadi sayang kalau mau beli mukena baru. Atau barangkali ada yang mau ngasih? Tapi yang warna putih loh ya *kedip genit* πŸ˜› Biar nanti tidak disindir lagi saat shalat jamaah :mrgreen:

Advertisements

19 thoughts on “Saat Mukena Tak Hanya Putih

  1. Kalo nurut aku siy mak, pakai mukena colorful dan bermotif itu biar gampang dikenalin oleh anak. Maklum, anakku kan laki. Jadi, kalo mau pulang tarawih, dia kudu nemuin ibunya berdasarkan warna mukena. Daaaan, mukenaku sangat anti mainstream —> warna HITAM πŸ™‚

    1. bener juga mak, kan tiap orang cenderung pakai motif/warna yang berbeda, kecuali kalau emang lagi nge-tren dan banyak yang pake πŸ˜†
      wah ini, anaknya gampang banget kalau mau nyari emaknya hehehe πŸ˜€

  2. Nah itu dia, aku paling gak suka pengkhotbah yg hobi nyindir, kurang enak didengar, mana disamain ama pocong lagi 😦 Gimana mau maju klo yg diomongin masalah warna mukena kyk gitu. Mending kan ngasih kultum yg lebih bernas.

    1. aku juga gak tau mbak, awalnya mbahsa ridho Allah kok ujung-ujungnya ke warna mukena -.- ya pada asem gitu muka ibu-ibu dan mbak-mbak di sebelahku πŸ™‚

  3. kita positif thinking aja lah .. mgkn kalau warna warni dan berkembang-kembang mencolok ntar jd perhatian.

    1. karena pakaiannya kalo di kita udah kaya pakai mukena mbak πŸ˜€
      oiya, kayaknya tradisi mukena itu hanya ada di beberapa negara, tidak semuanya *lupa tapi baca dimana πŸ˜› *

  4. Huhihihi, saya ketawa dengar ulasan kultumnya, Mbak, hihih. *dilirik jamaah perempuan πŸ˜€
    Ragam busana tiap tahun mengalami perkembangan, seperti mukena. malah menjadi trend yah, Mbak. corak seperti Bali. kembangan gitu. saya pernah dengar ceramah hampir sama juga, tapi lebih menyinggung yang laki-laki. kalau disarankan tidak memakai kaos seperti hadiah beli ini itu, yang ada tulisan merknya. apalagi tulisannya besar dan mencolok. karena nggak menutup kemungkinan jamaah di belakangnya membaca tulisan tersebut, khawatirnya bikin nggak konsen. hihihi. tapi kembali ke niat masing-masing, tidak hanya ngikuti trend saja, tapi lebih mengutamakan ibadah ketimbang fashion semata πŸ˜€

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s