Mas Mamiek

Peristiwa yang sangat mengesankan ini terjadi sekitar emmm tujuh atau delapan tahun yang lalu πŸ˜† Waktu sedang on fire dengan salah satu ektra kurikuler yang saya ikuti, yaitu Sanggar Seni BISSING, ah gampangnya kita sebut SSB saja lah *sungkem sama ayah*. Setiap ekskul tentunya mempunyai ciri khas tersendiri, begitu pula dengan kami yang terbiasa memanggil Ayah untuk pelatih utama kami, Pak Puh Mbelung untuk pelatih yang juga alumni angkatan pertama dari ekskul ini, dan Mas-Mas’e untuk menyebut beberapa orang yang dituakan, entah itu alumni yang bersedia melatih kami ataupun pelatih dari sanggar lain (jika belum mempunyai panggilan khusus semisal Bang Agung).

Dalam rangka mengikuti pagelaran Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) Se-Jatim, kami melakukan proses produksi yang kesekian Β (lupa saya karena sudah lumayan lama πŸ˜› ) dengan mengambil judul Rama Shinta. Agar lebih menghayati *alah* peran masing-masing, maka kami sepakat untuk melakukan gladi resik sekaligus refreshing yang bertempat di Kare πŸ˜€

Nah, berhubung ceritanya tentang Sinta yang diculik Rahwana, kemudian diselamatkan oleh Rama dengan bantuan kera-kera, maka setting tempatnya adalah hutan rimba. Jadi gladi resik kami dilakukan di suatu tempat antah berantah di tengah pegunungan Kare. Tempat tersebut benar-benar terisolir, untuk mencapainya hanya bisa dilakukan dengan jalan kaki atau naik motor yang bikin jantung copot 😐

Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak SSB dan tentu saja ada Ayah, Pak Puh, dan buuuaaanyaaak mas-mas’e kenalan Ayah. Dalam waktu dua hari semalam, kami bagaikan berada di Candradimuka dibawah asuhan beliau-beliau mastah teater ini :mrgreen:

Saya kebetulan bagian konsumsi, jadi tiap waktu makan tugasnya memastikan setiap orang sudah mendapat jatahnya masing-masing. Saya dengan beberapa teman berbagi tugas, dan apesnya saya kebagian melayani mas-mas’e yang sebagian besar tidak saya hafal namanya 😦 Jadi saya hanya mengikuti Ayah saja, oh si itu Mas Ini, yang di sana Mas Itu, dan seterusnya.

Semuanya aman terkendali, sampai tiba-tiba ayah menegur saya, karena ada satu orang sesepuh yang belum mendapatkan sendok untuk makan. Setelah mendapat sendok, saya tanya pada Ayah, siapa yang belum kebagian tadi. “Itu, Mas Mamiek yang tadi pegang kamera”, kata Ayah sambil menunjuk orang yang dimaksud. Saya pun lempeng saja ngasih sendok ke beliau sambil berkata, “Mas Mamiek, ini sendoknya”, beliau pun menerima sambil senyum-senyum. Tapi Ayah dan hampir seluruh mas-mas’e disitu ketawa ngakak keras sekali sambil menatap saya yang kebingungan ❓ . Kemudian Bang Agung bilang, “Wah, sangar kowe, yo. Wani nyeluk ‘Mas Mamiek’, padahal wong e kan sesepuh teater neng Madiun hahahaha * πŸ˜† “.

Deg! Wadehel ini! Hadeeeh, saya kan hanya menirukan Ayah, ternyata salah hiks hiks Siapa gue beraninya manggil orang “Mas Mamiek” doang padahal beliau adalah sesepuh disitu?! Alamakjang! Padahal yang sekelas Bang Agung ataupun Pak Puh memanggil beliau dengan sebutan Pak Mamiek! Β Saya pun hanya tersenyum malu dan berlagak seolah tidak terjadi apa-apa ^^’ Padahal dalam hati mencelos, mati aku! πŸ˜₯

Dan benar saja, saat pulang pun, saya masih digoda tentang skandal “Mas Mamiek” πŸ˜† Berkali-kali Ayah dan yang lainnya bercerita dan dengan puasnya meledek saya πŸ˜₯

*Wah, kamu berani sekali, ya. Memanggil ‘Mas Mamiek’ saja, padahal beliau kan sesepuh teater di Madiun hahaha

Diikutkan dalam “The Silly Moment Giveaway” Nunu el Fasa dan HM Zwan

Advertisements

4 thoughts on “Mas Mamiek

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s