Kangen

Awas! Postingan ini akan sangaaaaaat panjaaaang :mrgreen:
Iseng membaca postingan lawas ini, tiba-tiba saya disergap rasa kangen yang tak terperi *aih, sedap*. Saya kangen saat hidup saya terbatas, HP hanya bisa untuk telpon dan sms, kalau mau internet-an mesti ke kampus dulu, dan lain-lain. Sekarang rasanya saya telah menjadi bagian dari budak teknologi 😦 Sejak mempunyai modem, saya sangat kecanduan internet. Kalau kuota internet habis, hidup terasa hampa *tsah*. Begitu pula semenjak saya HP saya berganti Nokia Asha 306. Meski jaringannya nanggung, tapi lumayan lah bisa untuk What’s App dan internet-an kapan saja. Dan, ya, lagi-lagi saya merasa hampa jikalau sehari saja tidak membuka browser di hp ini.
Saya bersyukur karena saat pulang ke rumah, saya memasuki area-susah-sinyal 😀 Dulu, saya sering uring-uringan karena sering di-cap lambat dalam menanggapi informasi yang diberikan pada saya saat di rumah. Kalau mau internet-an kudu ke warnet yang ada di pasar, sms pun di kirim kapan nyampe ke saya kapan mbalesnya kapan 😆 Belum lagi kalau di telpon nanti suaranya kemresek, kudu ke tegah sawah dulu biar dapat sinyal yang banyak. Kesannya terpencil banget yak rumah saya ini? Hahaha 😛 Provider yang sinyalnya nyampe sini dengan taraf lumayan hanya dua, Telkomsel dan XL. Indosat, Esia dan Smartfren sering hilang timbul, tergantung posisi HP ada dimana. Axis? Saya belum mencoba :mrgreen: 3? Gak ada sinyal sama sekali 😐 Ada yang belum disebut?
Emang kamu tinggal di mana, Nyah? Pelosok amat 😛 Gak pelosok-pelosok juga sih, wong jalannya saja sudah diaspal kok. Hanya saja sepertinya tower-tower penagkap/pemancar sinyal letaknya lumayan jauh dari tempat saya 🙂 Dan lagi pemukiman di sekitar rumah saya mulai padat dan bangunannya cenderung tinggi-tinggi. Rumah model joglo sudah jarang, jadi ya penghalang sinyalnya lumayan banyak lah 😆
Kadang di rumah pun saya masih kangen dengan keadaan waktu saya kecil dulu, dan betapa saya iri jika kakak-kakak saya bercerita tentang masa kecil mereka. Kakak pertama sering cerita dulu hampir seharian bebas bermain perang-perangan dengan teman-temannya, blusukan ke kebun dan sawah tetangga. Bahkan menurut cerita ibu, kakak saya ini hasratnya begitu menggebu untuk menjadi tentara, sampai-sampai memiliki seragam loreng, tempat makan dan minum ala tentara, ransel, hanya saja senjatanya pistol dari pelepah pisang 😆 Sekarang jadi apa, Nyah? Pegawai pajak 😛
Kakak kedua saya perempuan, tetapi tidak mau dipanggil ‘Mbak’, maunya ‘Kang(Mas)’. Kakak kedua saya ini sangat beruntung karena cucu pertama perempuan bagi keluarga besar simbah dari ibu. Hampir seluruh perhatian Pak Lek dan Bu Lek (yang kebanyakn masih lajang) tercurah untuk dia. Segala permainan seperti peralatan masak-memasak, lompat tali, sepeda, juga baju-baju yang sedang tren saat itu, bisa menjadi miliknya dengan mudah. Kakak saya ini juga bebas bermain dengan tetangga sekitar yang memang kebanyakan cowok, entah bermain di sawah atau blusukan di kebun tetangga nyari apa gitu buat dimasak (dengan alat memasak yang mainan) 😀

Berhubung jarak kakak kedua dan ketiga hanya dua tahun, maka masa kecil kakak ketiga ini sebelas dua belas lah dengan kakak kedua. Hanya saja, dia tidak mau dipanggil ‘Mas’ dan suka pake rok ^^’ (kebalikan dengan yang nomor dua). Sampai kakak ketiga, mereka semua lihai memanjat pohon jambu dan bougenville di pagar rumah. Sementara saya? Bisa naik tapi gak bisa turun 😆 Halaman samping rumah pun masih seukuran lapangan tenis dan di sekitarnya ada beberapa pohon mangga, jadi mau bermain apa saja menyenangkan. Pas jamanku? Pohon mangga sudah di tebang dan halaman samping sebagian digunakan untuk membuat rumah mobil alias garasi. Tinggal gang kecil di samping rumah yang masih bisa digunakan untuk bermain bersama teman-teman seusia saya 😦
Dulu, kalau puasa gini, mushola di sebelah rumah saya rame sampai waktu sahur. Tetangga sekitar yang sebaya dengan kakak-kakak saya akan mengaji bergantian, bahkan yang cowok-cowok biasanya pulang waktu sahur. Trus, enaknya lagi nih, yang gak giliran ngaji biasanya bikin rujak atau beli jajan apa lah kemudian dimakan rame-rame 😀 Nah, yang belum bisa ngaji atau masih kecil, ya jadi penggembira saja 😆 Ikutan makan-makan, maen monopoli atau apa saja yang penting ada di mushola 😀 Sekarang yang ngaji tinggal dikit, paling hanya sampai jam sepuluh malam, itupun saya sering kebagian jatah terakhir *karena rumahnya sebelahan dengan mushola* 😥
Saya orang yang labil. Terkadang senang dengan segala fasilitas yang menyenangkan dan merasa menjadi manusia modern *ehem*, tapi terkadang jenuh dan merasa lebih baik kaya dulu aja deh, gak punya apa-apa dan tidak tahu apa-apa, jadi hidup lebih tenang dan tidak banyak godaan. Tapi saat ditanya, yakin mau ngelepas itu semua? Saya kembali berpikir, nanti kalau kudet gimana? Kalau tidak tahu kabar teman-teman gimana? Dan sederet kekhawatiran lainnya.
Ah, sudahlah. Nikmati dan syukuri saja apa yang ada saat ini. Toh, saat jenuh dengan teknologi, bisa pulang ke rumah yang dapat meminimalisir hasrat untuk bersentuhan dengan teknologi 😀

Advertisements

2 thoughts on “Kangen

  1. kangen jalan kaki gak?
    dulu kayaknya jalan kaki pulang dari kampus. sebelum dapet tukang ojek #eh

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s