Goes to Pati

Aih, lama tak melalui jalur pantura (as bus-rider of course!), membuat saya kagum akan pembangunan jalan jalur pantura πŸ˜€ Sekarang Semarang-Pati mulus euy! *karena saya hanya sampai situ πŸ˜› * Kalo gak pake nyasar, dengan kecepatan 80km/jam via jalur lingkar, hanya dibutuhkan waktu kurang dari 1.5 jam! Diitung mulai Terboyo di Semarang sampai masuk kota Pati (yg ada patung apa gitu lupa :mrgreen: )

Saya biasanya hanya melewati kota Pati, karena tujuan saya adalah Gresik ketika bepergian melalui jalur pantura. Kemarin saya diajak TuanΒ untuk menengok adiknya yang bekerja di Pati. Saya iyakan saja, toh saya hanya penumpang pemberat yang tinggal duduk manis di jok belakang Jupie muehehehe πŸ˜› Pukul enam pagi kurang, TuanΒ berangkat dari Jogja. Saya mah masih merem melek jam segitu πŸ˜› Tiba-tiba jam delapan kurang dia sms kalo sudah nyampe Banyumanik. APAH?! Kontan mata saya melek lebar, sambar handuk dan alat mandi, celebang-celebung bentar (baca : mandi), ganti baju, selesai deh πŸ˜€ Pas saya mau keluar kos, pas si TuanΒ sudah di depan kos. Amaaaaaan :mrgreen:

Setelah istirahat sebentar, sambil nandain jalan yang akan kami lalui nanti lewat aplikasi di HP, saya pun bersiap-siap, dan cus meluncurlah kami ke Pati. Eh, sebelumnya beli sarapan dulu ding, kemudian dimakan waktu berhenti di pom bensin Sigarbencah biar berasa musafir gitu *ehm. Perut penumpang kenyang, perut Jupi juga kenyang πŸ˜€ Saatnya melanjutkan perjalanan.

Waktu sampai di Meteseh, TuanΒ ngajak lewat yang tembusan ke Penggaron (bukan yang lewat perempatan pertama di Meteseh). Saya sih hayuk saja, toh kami juga pernah lewat situ dan tembusannya juga tetep Genuk kok πŸ˜€ Ealah, kami ternyata salah ambil belokan waktu sudah nyampai di kawasan Penggaron. Lah kok bisa sampai ke Terminal Penggaron? Kan harusnya gak nyampe sini 😦 Eaaa, drama nyasar pun dimulai (lagi!).

Sebelum Terminal Penggaron, ada papan penunjuk arah, kalau lurus ke Purwodadi dan Demak, belok kiri ke Genuk dan Penggaron, belok kanannya lupa πŸ˜› Β Lha tapi kok persimpangannya masuk terminal gitu? Kami pun lurus terus berharap ada persimpangan lain dan ternyata gak nemu πŸ˜₯ Akhirnya kami memutuskan, kalau ada jalan belok kiri yang agak lebar, ambil saja :mrgreen: Ternyata jalannya lurus-lurus saja, dan ketika saya cek di GPS, kami sedang menuju arah Purwodadi, yassalam -.-

Begitu ada jalan agak besar di kiri jalan, kami berbelok sebelum terlalu jauh ke arah Purwodadinya. Daaan, jeng jeng! Jalannya sih halus, sudah beton cor gitu, tapi ini di tengah sawah je! Hahaha 😐 Kalau nurut peta sih, tinggal lurus aja nurut jalan ini, ntar sampai ke jalan pantura Demak, kok! Kami pun menyusuri jalan tersebut selama kurang lebih 20menit, dan alhamdulillahnya beneran sampai ke jalan yang benar lagi, yeay! πŸ˜†

Nasi gandul pake kikil
Nasi gandul pake kikil

Akhirnya kami sepakat, nurutin jalan pantura aja deh sampi Pati, jangan tergiur jalan alternatif ataupun belokan yang sekiranya kurang meyakinkan πŸ˜† Memasuki kota Kudus, hampir saja kami salah lagi memilih jalan. Mungkin saja jalur itu bisa tembus ke Pati, tapi kami tidak mau ambil resiko, akhirnya kami balik kanan dan masuk ke jalur lingkar lagi πŸ˜› Begitu memasuki kota Pati, hmmm, adem yah, enak hihihihi Saya pun segera menghubungi Risa untuk meminta ancer-ancer yang lebih spesifik ke kosnya. Kami mencari jalan berdasarkan petunjuk Risa, deket-deket kuburan gitu deh. Tapi kami bingung ambil belokan yang mana. Feeling saya mnegatakan kalau kami udah melewati gang kosnya Risa, tapi karena tidak yakin, kami lanjut saja dan sampai di depan kantor Kospin Jasa dan Risa bilang tunggu saja disitu. Setelah ketemu dan kami mengikuti Risa, bener ik ternyata kami sudah melewati depan gang kosnya dia πŸ˜† Ya sudahlah, toh sudah ketemu πŸ˜› Jam di hp saya menunjukkan pukul 12.15 waktu kami sampai di kos Risa. Setelah istirahat sebentar, kami double date *alah* ke warung nasi gandul terdekat mihihihi

Saya belum pernah makan nasi gandul, jadi bingung waktu ditanyain mau pakai lauk apa. Seporsi nasi gandul terdiri dari nasi, lauk misal daging sapi, kikil, atau jeroan (ini milih sendiri) yang kemudian dipotong-potong, trus disiram dengan kuah yang encer dan dikasih sedikit sambal. Saya, Risa, dan Hasan memilih lauk daging sapi, sementara Tuan milih kikil. Minumnya kami pesan satu es jeruk dan tiga es teh. Ditambah dengan lima biji kerupuk (kalau tidak salah), total makan siang kami Rp 60.000,- kurang seribu. Mihil cyiiiin πŸ˜₯

IMG-20140818-WA0001
nasi gandul pake daging

Setelah makan, kami kembali ke kos Risa untuk leyeh-leyeh lagi πŸ˜€ Sore hari sekitar pukul lima, kami berkeliling untuk mencari bus atau travel ke arah Pekalongan langsung. Setelah survei ke terminal *alah*, hampir semua bus hanya sampai di Terboyo, Semarang. Berarti harus sambung bus ke arah Pekalongan. Kami pun sempat tanya ke beberapa agen travel, dan jawabannya sama saja 😦 Yasudahlah, mau gimana lagi.

Setelah shalat magrib, kami makan di kucingan dekat alun-alun kota Pati. Setelah dirayu-rayu, barulah Tuan mau diajak jalan-jalan ke alun-alunnya :mrgreen: Alun-alun kota Pati ini tidak terlalu besar, tetapi nyaman kalau untuk wisata keluarga, karena selama duduk-duduk disana hampir seja, kami hanya menjumpai satu pengamen saja πŸ™‚ Lalu lintas di sekitar alun-alun pun tidak terlalu padat (apalagi dibandingkan dengan Simpang Lima heuheu πŸ˜› ), eh tapi kok ada pengumuman anak hilang yak? πŸ˜† Berarti lumayan ramai lah kegiatan di alun-alun ini πŸ˜€ Ada becak cinta juga yang berkeliaran di sekitar alun-alun.

Salah satu sudut alun-alun Pati
Salah satu sudut alun-alun Pati

Di tiap persimpangan menuju alun-alun, terdapat tugu dengan patung wayang di atasnya. Sayangnya dokumentasi perjalanan ke Pati ini sangat minim πŸ˜₯ *lirik Tuan* Kami pun kurang meng-eksplore apa saja keunikan di Pati ini. Padahal ada banyak hal yang bisa dijadikan obyek kamera, seperti patung kelinci yang bertebaran di pinggir jalan, patung ikan di dekat perbatasan, dan mungkin masih banyak lagi πŸ™‚

Keesokan harinya, kami berangkat dari Pati menuju Semarang sekitar pukul sebelas kurang, dan gilanya sekitar jam 12.15 kami sudah sampai Terboyo πŸ˜† Jangan tanya berapa kecepatan Jupie saat itu, saya mah merem-merem saja atau lihat pemandangan *pokoknya jangan lihat speedometer aja πŸ˜› * hahaha Saya masih gemas dengan Pati dan bertekad untuk kesana dan menjelajahinya πŸ˜€ *kedip-kedip Tuan*

Advertisements

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s