Nyuci atau Laundry?

Haiyaaaa, postingan ini menjawab *alah* pertanyaan Tuan di blognya πŸ˜› Saya yang lebih lama di Tembalang daripada Tuan, lebih merasakan naiknya harga-harga disini :mrgreen: Apalagi saya sudah berpindah kos sebanyak emmm empat kali sajaaaah πŸ˜† Jadi kalau Tuan memutuskan apakah akan nyuci atau laundry saja hanya berdasarkan harga, beda lagi dengan saya, yang cenderung lebih banyak lagi pertimbangannya πŸ˜†

Saat masih maba, kebetulan depan kos saya ada laundry, harganya pun masih murah, jadi ya saya lebih sering laundry saja daripada nyuci sendiri πŸ˜› Ssst, dulu saya juga sering mergoki Tuan laundry disini juga loh :mrgreen: Setahun kemudian, saya pindah kos ke daerah perumahan. Ndilalah tempat-tempat laundry yang ada agak jauh, yasudah mau tak mau saya seringkali harus mencuci. Kecuali kalau sedang terkena virus malas dan sok sibuk yang akut πŸ˜› Di tempat yang baru, saya bertahan selama setengah tahun karena kebanjiran dua atau tiga kali, selutut pula πŸ˜₯ Kebetulan juga waktu itu ibu saya sedang ikut nge-kos *eh* karena merawat saya yang sedang sakit πŸ™‚ Ibu bersikeras menyuruh saya pindah saja, takut kalau kebanjiran lagi pas tidak ada orang di kos. Eh di kontrakan ding hahahha πŸ˜›

Kos-kosan berikutnya sangat strategis πŸ˜† Mau kemana saja dekat. Ndilalah saya juga nemu laundry-an yang lumayan murah dan dekat kos. Tapi saya jarang laundry karena ada mesin cuci di tempat kos yang baru, lumayan lah yaaa 😈 Dan semua berubah ketika Tuan ngasih tau ada tempat laundry yang murah sangat πŸ˜† Lumayan jauh sih dari kos saya, tapi kan udah punya ojek pribadi *ehm, dikeplak Tuan* πŸ˜› Saya dan Tuan langganan disitu *dengan cucian dan duit masing-masing yah!* sampai tempat itu tutup. Saat Tuan beralih ke laundry dekat kosnya, saya pun kembali mencuci lagi dengan terpaksa riang gembira πŸ˜›

Sekian lama, Tuan sudah lulus dan hijrah ke Jakarta, sementara saya masih setia membusuk disini πŸ˜₯ Karena beberapa hal, saya pindah kos lagi muahahaha πŸ˜› Waktu baru pindah kos, saya malah dikasih tahu Royun kalau di dekat kosnya ada laundry lumayan murah dan bersih. Dan saya pun juga sering melewatinya saat hendak main ke tempat Royun. Akhirnya, kembali lagi saya ke kebiasaan nglaundry lagi πŸ˜† Apalagi kalau saya sedang malas, bisa minta tolong untuk dijemput dan diantar lagi laundry-an saya :mrgreen: TANPA BIAYA TAMBAHAN!! Tapi sepertinya sekarang harganya sudah naik, jadi saya tidak laundry kesana lagi πŸ˜₯

Tapi sekarang saya kembali mencuci dengan giat, karena kebutuhan saya sedang banyak-banyaknya πŸ˜› Padahal di dekat kos saya ada loh laundry yang harganya masih lumayan terjangkau lah untuk kantong mahasisa macam saya πŸ˜† Saya hanya melempar cucian ke tempat laundry saat hendak mencuci seprai (plus pakaian kotor yang banyaaaaak banget) atau saat hendak pulang kampung :mrgreen:

Kalo Tuan pake rumus s = d * b (penjabaran lengkap lihat di sini), saya tambahin satu variabel lagi deh, yaitu j = jarak antara tempat laundry dan kos. Jadi rumus saya untuk urusan semangat mencuci yaitu :

s = d * (b * j) ; dimana s yaitu semangat mencuci, d yaitu tebal dompet πŸ˜† b yaitu biaya laundry, dan j adalah jarak tempat laundry. Tanda kurung menunjukkan prioritas πŸ˜›

Sudah terjawab, kan, Tuan? 😎

Advertisements

2 thoughts on “Nyuci atau Laundry?

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s