Setahun yang Lalu

Hari ini, tepat setahun yang lalu, Bapak menunaikan ibadah haji. Alhamdulillah Bapak masih diberi kesempatan dan kesehatan di usia beliau yang melewati angka 65 tahun, tepatnya 68 tahun. Bapak sudah antri kira-kira hampir delapan tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji ini. Alhamdulillah, Allah berkenan untuk mengizinkan Bapak ke rumah-Nya meski dengan bekal seadanya.

Setahun sebelum keberangkatan, latihan manasik haji sudah dimulai, juga materi-materi lainnya yang berkenaan dengan ibadah haji maupun selama berada di tanah suci nanti. Awalnya pertemuan dilangsungkan dua minggu (atau sebulan ya?) sekali, bergantian antara di Caruban atau di Kebonsari. Kalau masih di Kebonsari tak masalah, toh itu adalah kecamatan tempat kami tinggal. Lha kalau Caruban? Jauh, Jendral!! Hampir sejam lah kalau naik mobil atau motor dari rumah kami yang di pelosok ini. Tetapi Bapak tidak pernah mengeluh, bahkan beliau sangat bersemangat setiap kali tiba waktunya untuk pertemuan para calon jamaah haji ini. 

Tiga bulan menjelang keberangkatan, pertemuan makin intens, seminggu sekali. Karena kami terhitung sebagai warga Kabupaten Madiun, maka latihan manasik haji dilakukan di ujung dunia Caruban. Beda dengan warga Kodya Madiun, yang asrama hajinya berada di dalam kota. Bapak biasanya berangkat dengan Pak Pardi, karena beliau masih terhitung saudara (anak dari adiknya Mbah Kakung dari pihak Ibu saya) dan kebetulan beliau juga pengurus IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Cabang Kabupaten Madiun. Kalau Pak Pardi berhalangan, barulah Bapak menghubungi Bu Baiti, sesama calon jamaah haji yang rumahnya agak dekat dengan kami.

Bapak tidak mau merepotkan kami, anak-anaknya, beliau akan naik motor (atau sepeda jika motornya dipakai) sendiri ke rumah Pak Pardi maupun Bu Baiti. Bapak juga sebenarnya tidak mau kalau kepergian beliau nanti acaranya dibuat ramai. Karena jujur saja, kantong kami cekak kalau untuk masalah seperti itu, sedangkan anggapan di desa kalau sudah mampu naik haji berarti sudah ada uang berlebih dan seringkali mengadakan acara yang ‘wah’ waktu pelepasan maupun penerimaan haji. Alhamdulillah, Allah memang Maha Kaya. Rezeki selalu mengalir semenjak berita tentang keberangkatan Bapak menyebar di daerah kami.

Selama tiga hari sebelum keberangkatan Bapak, rumah kami selalu kebanjiran tamu. Pagi-pagi buta saat keberangkatan pun, beberapa tetangga  dan saudara meramaikan rumah kami untuk melepas Bapak. Pukul enam pagi, kami sudah harus berkumpul di masjid untuk acara pelepasan calon jamaah haji di lingkungan kami, sebelum acara resminya yang diadakan di Pendopo Kabupaten Madiun. Subhanallah, yang hendak berangkat haji ada dua orang, Bapak dan Bu Baiti, sedangkan yang mneghadiri acara di masjid ada banyak sekali, hampir setengah bagian dalam masjid terisi.

2013-09-24 07.45.42

Sekitar pukul setengah delapan pagi,rombongan meluncur ke alun-alun. Kami sekeluarga(Bapak, Ibu, Mas Im, Mbak Ican, Mbak Denok + 2 anaknya, Mas Fandi, Mbak Lisa, dan saya) menjadi satu mobil, kemudian beberapa saudara yang ikut mengantar terbagi menjadi dua mobil lagi. Sesampainya di alun-alun, parkiran untuk mobil khusus keluarga (dapat jatah stiker 1 untuk 1 orang calon jamaah haji) sudah penuh, terpaksa Mas Im, mencari area parkir di luar.

Yang diizinkan masuk ke Pendopo hanyalah calon haji disertai satu orang pengantar. Saat itulah, perpisahan yang sebenarnya terjadi. Kami menyempatkan diri untuk berfoto keluarga terlebih dahulu sebelum Bapak masuk ke Pendopo. Waktu Bapak berpamitan, mendadak saya dan yang lainnya menangis. Hanya doa yang bisa kami berikan untuk mengiringi keberangkatan Bapak ke tanah suci.

Sebulan kemudian, kami menjemput Bapak di tempat yang sama, Pendopo Kabupaten Madiun. Alhamdulillah Bapak sehat (meski sebenarnya terkena flu sih, tapi konon hampir semua jamaah juga mengalaminya) dan wajah beliau nampak berbinar-binar. Selama Bapak di tanah suci, komunikasi lancar, Bapak pun tidak perlu mengganti nomornya selama disana, alhamdulillah.

Konon di daerah kami, jika ada orang yang pulang haji, maka pintu rumahnya harus terbuka lebar selama tujuh hari, karena pasti akan ada banyak sekali tamu yang berkunjung. Itupun terjadi di rumah kami, selama seminggu pertama, baik siang maupun malam, rumah kami sesak dengan tamu. Memasuki minggu kedua, tamu masih tetap berdatangan walau tak seramai minggu pertama. Tak terasa kami membuka pintu untuk menerima tamu selama hampir satu bulan. Dan memang, Allah Maha Kaya. Selama jangka waktu tersebut kami tak pernah kekurangan, walaupun tamu membludak, hidangan selalu ada untuk mereka. Alhamdulillah.

Setahun sudah berlalu, Bapak selalu bilang kangen ingin kesana lagi. Kata Bapak, kalau disana itu ibadahnya bisa khusyuk sekali. Ingat rumah biasanya saat pulang ke penginapan hehehe Semoga Allah masih berkenan memberikan kesempatan dan kesehatan untuk Bapak mengunjungi rumah-Nya lagi, aamiin.

Advertisements

2 thoughts on “Setahun yang Lalu

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s