Semarang, Bapak, dan Aku

Mbiyen Bapak ki mbonceng simbahmu teko Stasiun Tawang nganti pelabuhan nganggo sepeda,” sepenggal kalimat yang selalu Bapak katakan saat mengingat masa-masa beliau di Semarang. Hampir setengah abad kemudian, siapa sangka saya juga menuntut ilmu di kota yang sama?! ๐Ÿ™‚

Bapak berada di Semarang sekitar awal 60-an, dan saya menginjakkan kaki di kota yang sama tahun 2008. Perbedaan yang mencolok tentu saja terasa. Seolah-olah semua cerita Bapak mengamini apa yang pernah saya baca lewat karya Nh.Dini ataupun buku-buku sejarah lain. Pelaku sejarah itu ada di depan mata saya!

Wilayah kekuasaan kami tentu berbeda :mrgreen: Bapak bahkan masih hafal beberapa tempat seperti Stadion Diponegoro, Stasiun Tawang, Gedong Batu alias Klenteng Sampokong, Pasar Yaik, Kauman, dan banyak lagi yang sekarang lebih terkenal sebagai kawasan Kota Lama. Kalo saya kan orang atas, tahunya ya Tembalang, Srondol, Kariadi, Simpang Lima dan sekitarnya. Menurut ukuran jaman Bapak sih, tempat-tempat yang saya tau termasuk dataran tinggi yang mana jarang dikunjungi Bapak, jadi kadang agak gak nyambung kalo cerita ๐Ÿ˜†

credit

Misal saja sedang cerita tentang alun-alun Semarang yang rame, kalo saya taunya ya Simpang Lima itu, kalo Bapak taunya alun-alun Semarang tuh yang sekarang udah jadi Pasar Johar. Beda, kan?hahaha ๐Ÿ˜› Untung Kaumannya enggak pindah, jadi saya masih nyambung kalo diajak cerita tentang alun-alun lama. Belum lagi kalo saya cerita tentang Pasar Johar, Bapak tetep nyebutnya Pasar Yaik -_- Untung saya ingat tulisan gede di pintu masuk pasar yang berbunyi “Pasar Yaik Permaiย dan Pasar Yaik Baru” ๐Ÿ˜›

DSC02992

Kalo saya cerita tentang Pecinan, Bapak tahunya Pekodjan. Kawasan yang sama tetapi beda penyebutan ๐Ÿ™‚ Bener sih disitu pusat jual beli yang isinya kebanyakan etnis Tionghoa. Bapak saya malah hafal di toko mana jualan apa saja, gak tau sekarang masih ada atau enggak tokonya hehehe Saya dulu tidak tahu dimana pemakaman Bergota yang terkenal itu, ternyata di sebelah Kariadi yang termasuk kawasan bawah bagi saya, sementara menurut Bapak Bergota itu udah termasuk kawasan atas hahaha ๐Ÿ˜€

credit

Bapak sering cerita dulu tiap malam Jumat (atau Jumat malam ya?), di Gedong Batu (sekarang terkenalnya sih Sampokong) ada pertunjukan wayang gratis :mrgreen: Juga bercerita tentang beberapa hiburan rakyat yang terkenal pada jaman itu (tapi saya lupa hehehe)

Dulu kendaraan yang berseliweran hanya sepeda, dokar, cikar dan kereta, mobil masih jarang. Lha sekarang?! Macet tiap hari dan dimana-mana ^^’ ย Mungkin Bapak akan kaget kalo saya ajak napak tilas tempat-tempat yang dulu sering didatangi beliau ๐Ÿ˜€

Masih banyak cerita tentang Semarang tempo dulu yang membuat Bapak bernostalgia dan saya berusaha menyesuaikannya dengan kondisi Semarang sekarang. Tak akan ada habisnya cerita tentang kota ini. Apalagi untuk dua generasi yang sama-sama pernah tinggal di sini ๐Ÿ™‚

Advertisements

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s