Penjara

“Ceritakan sama Bapak, ada masalah apa?” Ning tergugu di pelukan Ibu, tak berani menatap sorot mata Bapak. Perlahan, akhirnya Ning mengutarakan semua yang ada di benaknya. Keinginan dan kenyataan yang dihadapinya, silih berganti keluar dari mulut Ning. “Ya sudah, jalani saja apa yang menjadi keinginanmu, Nduk. Jangan dengarkan omongan orang.” Tegas Bapak sambil membelai kepala Ning, anak perempuan satu-satunya. “Terima kasih, Pak, Bu.” Ning menghela nafas untuk kesekian kalinya. Ini adalah kali ketiga dia mendapat limpahan pekerjaan karena ada yang mengundurkan diri. Sesuai dugaan, pekerjaan yang ditinggalkan seringkali berantakan, dan menjadi tugas Ning untuk merapikan dan menyelesaikan semuanya. Ayo, kamu bisa! Ujar Ning pada dirinya sendiri. Ini adalah pilihanmu. Delapan tahun, bukanlah waktu yang singkat untuk merantau, apalagi untuk seorang perempuan. Lima tahun dihabiskannya di bangku kuliah, sisanya adalah masa kerja Ning pada sebuah perusahaan yang cukup ternama. Beruntung ia dikaruniai otak yang cerdas, sehingga langsung diterima bekerja begitu mengajukan lamaran untuk pertama kalinya. Oh, jangan lupakan pula doa yang selalu dipanjatkan Bapak Ibu di rumah, supaya Ning bahagia dan diberi kemudahan untuk mendapatkan keinginannya. Mengingat Bapak dan Ibu, selalu membuat mata Ning basah. Sebagai anak perempuan satu-satunya, seharusnya dia berada di sisi mereka, merawat dan menemani keduanya saat sudah senja. Laiknya anak perempuan pada umumnya, Ning sangat dekat dengan Bapaknya, pun dengan Ibunya. Konon, anak perempuan adalah anak Bapak, sementara anak lelaki adalah anak Ibu. Tapi Ning bersyukur karena ia bisa dekat dengan keduanya, tidak seperti kakak-kakak lelakinya yang hanya dekat dengan Ibu. “Pulanglah. Kan kamu juga bisa nyari kerja di sini.” Dada Ning jeri tiap kali dihantam dnegan pertanyaan itu oleh kakak-kakaknya. Kenapa tidak mereka yang pindah kerja di sana, batin Ning sewot. Tapi Ning tahu, ia sudah kalah dari awal jika hendak mendebat kakak-kakaknya. Lagipula ia tak memiliki nyali untuk melakukan hal itu. Hanya pada Bapak dan Ibu lah Ning bisa mengeluarkan semua perasaannya.

Bersambung

Advertisements

2 thoughts on “Penjara

Tiada jejak tanpa komentarmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s